Rumor Batubara, PLN Jember Sebut Pemadaman Demi Penguatan, Tapi Kompensasi Rakyat Masih ZONK!

FB_IMG_1781888866312

JEMBER – Gelombang pemadaman listrik bergilir yang melanda Pulau Jawa kian mencekik leher rakyat. Di tengah kegelapan malam, insiden ini tidak hanya memicu kemarahan, tetapi juga menghancurkan perputaran ekonomi warga. Ironisnya, situasi diperparah oleh liarnya rumor di media sosial yang mengaitkan mati lampu ini dengan menipisnya stok batubara PLTU hingga dampak rontoknya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang kini dikabarkan menembus angka ekstrem Rp18.000!

Kekesalan publik pun meledak karena PLN dinilai hanya mau menang sendiri. Warga dituntut bayar tepat waktu, bahkan diancam meteran dicabut jika telat. Namun saat pelayanan lumpuh, PLN terkesan lepas tangan.

“Kami beli token listrik pakai uang, kan tidak boleh utang. Tapi yang paling rugi ya listrik pascabayar yang tetap membayar abonemen. Pemadaman seperti ini, yang dirugikan jelas kami, masyarakat!” semprot Ahmad, seorang warga Kaliwates yang geram.

Menanggapi kepanikan massal ini, Manager PLN UP3 Jember, Sendy Rudianto, pasang badan. Ia berdalih pemadaman massal ini merupakan buntut dari proyek penguatan jaringan kelistrikan interkoneksi se-Pulau Jawa. Sendy mengeklaim pasokan daya untuk Jember sebenarnya surplus, di mana kemampuan PLN mencapai 1.200 MW dari kebutuhan yang hanya 500 MW. Namun karena sistem terinterkoneksi, Jember harus ikut menanggung beban wilayah lain.

Lucunya, saat dikonfirmasi mengenai rumor panas soal krisis batubara dan jebolnya kurs rupiah, pihak PLN mendadak bungkam dan memilih main aman.

“Nah kalau itu saya kurang tahu ya. Kami fokus di pelayanan saja,” kilah Sendy.

Lebih parah lagi, harapan rakyat untuk mendapatkan ganti rugi atau kompensasi materiil atas kerusakan elektronik dan kerugian usaha dipastikan berujung gigit jari. PLN secara blak-blakan mengakui belum ada pembahasan soal kompensasi bagi warga yang terdampak!

Nyala listrik tersendat, tapi tagihan dipaksa lancar. Adilkah ini untuk masyarakat?
[HendrA]